Sahabatku bernama Farid.
Orangnya jenaka.
Suka melontarkan
lelucon sepanjang waktu.
diafan
15
15
Aku membeli topi. Pedagangnya sudah tua. Setiap hari membawa berlusin-lusin topi di keranjangnya.
diafan
15
Setelah 10 tahun, aku melihatnya lagi. Tubuhnya seperti daun yang dimakan ulat. Keropos oleh sakit. Kopong oleh waktu.
prismatis
15
Ketika dia tersenyum. Aku bisa melihat warna-warni dunia, segala irama, juga tawa. Berhamburan di sekitarnya.
prismatis
15
Sebelum tidur aku berdoa. Semoga dalam mimpi. Kita bisa bersua.
diafan
15
Hidupku berjalan seperti siput. Aku ingin berlari. Tapi yang kumampu hanya merangkak.
prismatis
15
Aku melihat kelinci. Hadiah ulang tahun dari ayahku. Kupasang pita di lehernya. Sebagai tanda ia milikku.
diafan
15
Kau bertanya tentang hidupku. Tahukah kamu? Hidupku seburam kaca jendela mobilmu pada suatu malan berhujan, dan tak ada apa pun yang bisa kau lihat dari baliknya, selain kerlap suram cahaya lampu toko.
diafan
15
Matahari pagi bersinar cerah, Burung bernyanyi di antara dedaunan. Hatiku tenang, penuh rasa syukur, Hari ini indah, seperti doa yang terkabul.
diafan
15
Di ujung malam, Bayangan hujan menari di dinding sepi. Kata-kata menjadi kabut, Menyembunyikan rindu yang tak selesai.
prismatis
15
Kursi itu kini kosong, Tak ada lagi kau duduk di sana. Aku menyeduh teh seperti biasa, Tapi tak ada tawa yang menyambut.
diafan
15
Hari berlalu pelan, Dan kenanganmu tetap tinggal. Aku rindu, Tapi hanya diam yang menjawab.
diafan
15
Jejakmu menyala di antara debu, Langit retak, memuntahkan cahaya kelabu.
prismatis
15
Aku mengumpulkan senyap dalam gelas retak, Meneguk senja yang menggigil.
prismatis
15
Dalam jendela waktu yang kabur, Namamu menyamar jadi hujan. Dan aku, Hanyalah payung yang lupa dibuka.