Study

PUISI DIAFAN DAN PUISI PRISMATIS

  •   0%
  •  0     0     0

  • Di ujung malam, Bayangan hujan menari di dinding sepi. Kata-kata menjadi kabut, Menyembunyikan rindu yang tak selesai.
    prismatis
  • Aku membeli topi. Pedagangnya sudah tua. Setiap hari membawa berlusin-lusin topi di keranjangnya.
    diafan
  • Ketika dia tersenyum. Aku bisa melihat warna-warni dunia, segala irama, juga tawa. Berhamburan di sekitarnya.
    prismatis
  • Matahari pagi bersinar cerah, Burung bernyanyi di antara dedaunan. Hatiku tenang, penuh rasa syukur, Hari ini indah, seperti doa yang terkabul.
    diafan
  • Kau bertanya tentang hidupku. Tahukah kamu? Hidupku seburam kaca jendela mobilmu pada suatu malan berhujan, dan tak ada apa pun yang bisa kau lihat dari baliknya, selain kerlap suram cahaya lampu toko.
    diafan
  • Aku melihat kelinci. Hadiah ulang tahun dari ayahku. Kupasang pita di lehernya. Sebagai tanda ia milikku.
    diafan
  • Dalam jendela waktu yang kabur, Namamu menyamar jadi hujan. Dan aku, Hanyalah payung yang lupa dibuka.
    prismatis
  • Jejakmu menyala di antara debu, Langit retak, memuntahkan cahaya kelabu.
    prismatis
  • Hari berlalu pelan, Dan kenanganmu tetap tinggal. Aku rindu, Tapi hanya diam yang menjawab.
    diafan
  • Sahabatku bernama Farid. Orangnya jenaka. Suka melontarkan lelucon sepanjang waktu.
    diafan
  • Aku mengumpulkan senyap dalam gelas retak, Meneguk senja yang menggigil.
    prismatis
  • Sebelum tidur aku berdoa. Semoga dalam mimpi. Kita bisa bersua.
    diafan
  • Setelah 10 tahun, aku melihatnya lagi. Tubuhnya seperti daun yang dimakan ulat. Keropos oleh sakit. Kopong oleh waktu.
    prismatis
  • Kursi itu kini kosong, Tak ada lagi kau duduk di sana. Aku menyeduh teh seperti biasa, Tapi tak ada tawa yang menyambut.
    diafan
  • Hidupku berjalan seperti siput. Aku ingin berlari. Tapi yang kumampu hanya merangkak.
    prismatis