Tuan puteri memandang ke dayang kipas itu. Kesepuluhnya menyembah, lalu mengundurkan diri mengisut ke belakang perlahan-lahan. Bangkitlah Mak Inang, lalu duduk di tepi tilak tujuh bertindih, lalu mengumpulkan bunga melur yang terselit-selit
Budaya
Ciri/Karakteristik hikayat dari kutipan "Diambilnya pisau, lalu ditorehnya gendang itu. Maka Putri Ratna Sari keluar dari gendang itu."
Kemustahilan
Nilai yang terdapat dalam kutipan berikut, Sejurus lamanya timbul pikiran dan berkata ia dalam hati, “Baiklah kemalangan ini kuserahkan saja kepada-Nya.
Agama
Kata arkais dalam kutipan "Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu."
Nujum
Maka ia pun tiada beranak seorang pun jua. Maka segala menteri dan hulubalangnya dan orang-orang besar dan orang-orang membicarakannya,siapa juga yang patut dijadikan raja.
Sosial
Latar tempat dalam kutipan hikayat "Waktu malam tidur di hutan, siangnya berjalan mencari rezeki"
Hutan
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya.
Edukasi
Majas yang terdapat dalam kutipan berikut, Begitulah dengan sangat berkobar-kobar kami menceritakan ramalan masing-masing.
Hiperbola
Nilai dalam kutipan hikayat berikut, Maka sahut si Miskin, “Ada juga tuanku.” Lalu sujud kepalanya lalu diletakkannya ke tanah, “Ampun Tuanku, beribu-ribu ampun tuanku.
Budaya
Hikayat ini disalin oleh hamba yang hina dina. Ciri/Karakteristik hikayat dalam kutipan tersebut adalah
Anonim
"Benar anakku . Jika suatu saat engkau berada di masa-masa sulit ingatlah pelajaran tentang batu dan pohon ara itu. Segala kesulitan yang menindihmu, sebenarnya merupakan kesempatan bagimu untuk berakar, semakin kuat, bertumbuh
Pendidikan
Nilai dalam kutipan berikut "Namun, berhamburan kabar Pak Lurah akan mengorbankan tanah masjid dan sekitanya ini kepada orang kota untuk sebuah proyek pasar masuk kampung."
Moral
Nilai yang terdapat dalam kutipan hikayat "Akhirnya, kedua kerajaan itu berkembang bersama, saling bahu-membahu untuk menciptakan kerukunan, kemakmuran, dan perdamaian."
Sosial
Makna kata "dititahkan" adalah
diperintah
Nilai dalam kutipan hikayat berikut " Maka ada yang memberi buah mempelam, ada yang memberikan nasi, ada yang memberikan kain baju, ada yang memberikan buahbuahan."
Sosial
Watak tokoh Budi dalam kutipan berikut, Budi menyapu air mata adiknya sambil berkata, “Diamlah, Gus, jangan menangis. Ini aku bawakan nasi bungkus.”
Penyayang
Istri sang Raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Putri-putri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau, tak mau belajar.
Moral
Nilai dalam kutipan hikayat tersenut "Hatta maka dengan takdir Allah Swt. menganugerahi kepada hambanya. Maka si Miskin pun menggalilah tanah hendak berbuat tempatnya tiga beranak itu."
Agama
Nilai yang terdapat kutipan hikayat "Selama mereka bersama, raksasa perempuan banyak memberikan pengalaman baiknya, memberikan ilmu-ilmu, memberikan buluh perindu, dan memberikan sebuah senjata untuk melawan Buraksa (raksasa jahat)"
Edukasi
Nilai dalam kutipan berikut "Darko hanya tersenyum sambil gelengkan kepala berkali-kali isyarat kerendahan hati, seakan berkata bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa selain memijat."
Nilai Moral
Majas yang terdapat dalam kutipan "Setelah dilihat oleh orang banyak, Si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya"
Majas Simile
Majas dalam kutipan berikut "Lihatlah betapa daun-daun tidak pernah berhenti menciumi bumi."
Personifikasi
Your experience on this site will be improved by allowing cookies.